Menyaring Kopi dengan Kain Tenun Gedong, Apa Rasanya?

Bertumbuhnya penggemar kopi di Indonesia memicu para praktisi dan peneliti kopi untuk terus berinovasi, baik dalam hal pencampuran biji kopi, proses pemanggangan dan penggilingan, hingga penyajiannya.

Dalam satu dekade terakhir, teknik penyajian juga makin beragam dan makin unik, tujuannya yang pasti adalah untuk memenangkan hati pencinta kopi di nusantara.

Alih-alih mengeksplorasi cara penyajian ala barat, penggemar kopi di Indonesia belakangan ini justru makin penasaran dengan cara penyajian yang terkesan tradisional.

Baca juga:
Nikmatnya Kopi Premium Khas Indonesia yang Tak Menguras Dompet
Menikmati Malam Yogyakarta Penuh Kesan dengan Kopi Joss Lik Man

Aditya Fernando, Michael Fitzgerald Halim, dan Yogi Ishabib misalnya. Tiga pegiat kopi ini aktif mengeksplorasi cara penyeduhan kopi yang amat tradisional.

Seperti yang mereka pamerkan beberapa waktu lalu di C20 Library & Collabtive C20 Library & Collabtive, Surabaya, Jawa Timur. Mereka menggunakan kain tenun gedong untuk menyaring kopi Argopuro.

Kain tenun gedong sendiri merupakan tenun yang berasal dari Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Keberadaan tenun gedaong saat ini termasuk langka karena jumlah perajinnya yang makin berkurang.

Aditya sendiri mengaku harus memperlakukan kain gedong secara khusus. Sebelum digunakan untuk menyaring ia harus mencuci potongan tenun gedong hingga kotoran dan lapisan lilin hilang.

Aditya menilai, kopi hasil saringan kain gedong ini memiliki aroma yang lebih tajam ketimbang dengan cara penyaringan lainnya. Aroma herbal dan rempah yang ada di dalam biji kopi lebih kuat.

Aroma khas ini tidak bisa didapatkan jika disaring menggunakan kain buatan pabrik. Dengan kain biasa, aroma logam lebih kuat.

“Yang buat aromanya berbeda adalah karena kain tenun gedong dibuat dengan tangan dan bukan mesin. Makanya banyak komponen organiknya yang terjaga baik, seperti aroma kayu yang kuat,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *