Ini Dia Fakta Mencengangkan Lembah Baliem

Nama Lembah Baliem memang terdengar angker. Menuju ke kawasan ini, apalagi mengunjungi desa-desanya bukanlah hal yang mudah. Namun, sejak tahun 1989 Pemerintah Indonesia menggelar Festival Lembah Baliem untuk menarik wisatawan berkunjung dan berkenalan dengan suku-suku asli setempat.

Banyak hal tentang Lembah Baliem yang membuat mereka yang berada di luar Papua tercengang.
Baca juga:
Apa Saja, Sih Motif Batik Papua?

Bukan orang Indonesia yang Menemukan Lembah Baliem

Orang asing pertama yang menginjakkan kaki di Lembah Baliem adalah Richard Archbold, cucu seorang pengusaha minyak yang kaya raya asal Amerika Serikat. Ia berhasil menjejakkan kaki di Lembah Baliem tahun 1938 dengan menggunakan pesawat amfibi PBY 2 Catalina.

Tujuan utama Archbold datang adalah untuk memetakan kekayaan alam, susunan vegetasi yang ada di Papua.

Penemuan Lembah Baliem tidak disengaja

Beberapa teori mengatakan, Archbold sebenarnya tidak berniat untuk meneliti secara khusus Lembah Baliem. Saat ia terbang di atas lembah tersebut, Archbold menemukan adanya lahan pertanian dan kebun yang amat rapih. Keberadaannya berdampingan dengan desa-desa setempat.

Saat itulah Archbold memutuskan untuk mendarat di Lembah Baliem.

Suku yang gemar berperang

Suku Dani tercatat sebagai suku terbesar yang mendiami wilayah Lembah Baliem, di samping ada juga suku Yali dan Lani. Ketiga suku ini amat gemar berperang. Sebabnya, tanah yang didiami suku Dani merupakan tanah yang amat subur dan menjadi lumbung pangan.

Pertanian sudah berlangsung berabad-abad

Masyarakat Papua memang tidak biasanya berprofesi sebagai petani. Namun tidak demikian dengan suku-suku di Lembah Baliem. Ladang pertanian di lembah ini menurut catatan penelitian para arkeolog telah ada sejak 9000 tahun yang lalu.

Operasi Koteka yang Fenomenal

Pada dekade ’70-an Presiden kedua Indonesia, H.M. Soeharto berencana untuk mengubah budaya masyarakat Papua, terutama di Lembah Baliem yang mengenakan koteka. Saat itu Pemerintah meminta suku-suku asli di Lembah Papua meninggalkan koteka mereka dan menggantinya dengan pakaian biasa.

Baca juga:

Kalireco, Pesona Pemandian Alam di Kaki Gunung Arjuna

Tempat lahirnya Organisasi Papua Merdeka (OPM)

Kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah Indonesia yang dianggap tidak menghargai kearifan lokal ini akhirnya memuncak menjadi gerakan pemberontakan. Gerakan separatis OPM yang saat ini kita kenal berawal dari suku Dani.

Pernah ditutup untuk umum

Saat masa operasi militer untuk memberantas kelompok separatis yang berpusat di Lembah Baliem, pemerintah Indonesia terpaksa menutup kawasan ini untuk umum. Pemerintah kembali membuka kembali Lembah Baliem untuk pariwisata mulai tahun 2005.

Jumlah masyarakat muslim terbesar di Papua

Walaupun terkenal dengan pengaruh kristen yang kuat di Papua, namun kawasan Lembah Baliem tercatat memiliki penduduk muslim yang terbesar di Papua. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di tanah Papua.

Tradisi ikiplain sebagai ungkapan duka

Suku-suku yang menjadi penghuni Lembah Baliem akan memotong salah satu jari mereka saat anggota keluarganya meninggal dunia. Jari bagi masyarakat lokal merupakan lambang persatuan manusia. Mereka akan memotong jari tangannya dengan senjata tajam, diikat hingga sel-sel jari itu mati kemudian dipotong, atau bahkan digigit hingga putus.

Beruntung saat ini tradisi yang terkesan mengerikan itu sudah makin ditinggalkan.

Mumi ala Lembah Baliem

Selain memotong jari, masyarakat suku di Lembah Baliem juga akan mengeringkan jenazah keluarga yang meninggal, apalagi jika yang meninggal adalah orang yang amat dihormati. Mumi paling tua saat ini tercatat berumur 300 tahun lebih. Mumi tersebut adalah seorang panglima perang suku Dani yang amat ditakuti, bernama Wim Motok Mabel.

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *