Kapan Jepara Menjadi Sentra Ukiran Indonesia?

Jepara telah terkenal luas sebagai pusatnya perajin ukir di Indonesia. Tak hanya mampu meraup pasar dalam negeri, pelanggan ukiran Jepara malah sudah sampai mancanegara.

Tapi, tak banyak yang tahu kapan sebenarnya Jepara mulai menjadi pusat kerajinan ukir.

Salah satu teori yang paling dipercaya keakuratannya menyebutkan, di abad ke-7 saat kerajaan Kalingga berkuasa di Jawa Tengah dan Timur, Ratu Shima sebagai orang nomer satu di Kalingga memerintahkan warga Jepara membuat ukiran untuk mendirikan rumah tradisional, istana, bahkan kapal perang.

Baca juga:
Sinar Chandra, Satu-Satunya Sentra Batik Tulis di Rembang
Batik Kamoro, Dari Ukiran menjadi Motif Batik

Catatan sejarah itu berlanjut hingga kerajaan Majapahit berkuasa di kisaran abad 15 hingga 17. Saat itu banyak perajin ukir Hindu pindah ke Jepara dan memperkenalkan ukiran khas Majapahit.

Para seniman ukir Hindu itu teatnya bermukim di sebuah desa yang saat ini dikenal sebagai “Dusun Belakang Gunung”, Desa Mulyharjo, Kecamatan Jepara. Hingga saat ini para keturunannya masih berprofesi sebagai seniman ukir.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, ada seorang pendatang asal Tiongkok bernama Cwie Wie Gwan. Pria yang oleh warga sekitar dikenal dengan nama Sungging Badar Duwung ini mengenalkan motif baru, yaitu ukiran daun dan bunga. Ukiran karyanya tersebut masih bisa kita temukan di Masjid Mantingan dan makan Ratu Kalinyamat.

Di masa ini pengukir Jepara masih kesohor di kalangan masyarakat Jawa saja. Popularitas pengukir Jepara makin melejit saat RA Kartini bersama para kolega Belandanya mendirikan Oost en West, sebuah perkumpulan yang mempromosikan produk budaya dan seni dari Hindia Belanda.

Di perkumpulan itu RA Kartini mempromosikan kayu-kayu ukiran masyarakat Jepara. Kartini tercatat menjadi agen resmi pembelian produk kriya khas Jepara. Pelanggannya datang dari masyarakat Belanda.

Setelah RA Kartini wafat, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Openbare Ambachtsschool, semacam sekolah kejuruan khusus untuk pertukangan. Selain itu, Bupati Rembang dan Jepara juga mendirikan sebuah perusahaan perdagangan meubel di kisaran tahun 1930-an.

Sayang, perusahaan itu bangkrut. Ini juga menjadi titik awal dari kemunduran industri ukir Jepara.

Hingga akhirnya di tahun 1950-an warga Jepara mulai menekuni seni kriya kembali. Sayang perkembangannya tidak sepesat masa sebelumnya. Sampai 1979 hanya 2 persen warga Jepara yang menekuni kriya, 70% lainnya masih bergantung dengan pertanian.

Tahun 1989 Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi mencoba membangkitkan industri kriya Jepara melalui pameran internasional di Bali. Dari sinilah kemudian perajin ukiran Jepara kembali mendapat popularitasnya di mata internasional.

One thought on “Kapan Jepara Menjadi Sentra Ukiran Indonesia?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *