Mau Sukses Berbisnis Batik? Baca Dulu Ini

Tiap bisnis punya ciri khas dan penanganan masing-masing. Satu strategi di sebuah bisnis belum tentu bisa diterapkan di bisnis lain. Prinsip tersebut juga berlaku ketika kamu berbisnis batik. Bisnis batik sendiri sebenarnya bukan berbicara soal berjualan kain.

“Batik itu bukan soal jualan produk, melainkan jualan nilai,” ungkap Rektor Universitas Pekalongan (Unikal) Suryani. Namun perlu diketahui, membuat sebuah batik yang memang memiliki nilai tinggi tidaklah mudah, butuh waktu yang lama.

Di saat bersamaan, banyak kain printing (cetak) bermotif batik yang bermunculan dan ‘merusak’ pasar. Kain ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai batik. Menurut Pendiri Galeri Batik Jawa Indigo Nita Kenzo, produk kerajinan tangan tidak bisa dibandingkan dengan produk pabrikasi.

“Kalau hanya fokus pada nilai ekonomi (bukan nilai), batik hanya akan mengarah ke printing,” ungkapnya. Justru, kata Nita, nilai dari batik itu sendiri yang harus lebih ditonjolkan dan menjadi kekuatan.

Oleh karena itu, Nita punya siasat tersendiri agar bisnis batiknya tetap bisa berkelanjutan dan tidak kalah dari produk printing.

“Bisa menggunakan dua strategi harga, yakni premium dan harga terjangkau. Gunakan harga premium hanya untuk batik yang memang proses pembuatannya butuh waktu lama, misalnya setahun baru menghasilkan satu batik,” ungkapnya.

Nita melanjutkan, gunakan strategi harga terjangkau untuk menutup tenggang waktu kosong sembari menunggu batik premium jadi. “Caranya tergantung kepintaran pengrajin batik sendiri dalam membuat batik dengan kualitas bagus namun dalam waktu yang tidak terlalu lama,” kata dia.

Selain dari segi harga, perhatikan pula bahan pembuatan batik itu sendiri. Gunakan bahan pewarnaan batik yang berasal dari alam, misalnya tanaman Indigofera Tinctoria. Banyak konsumen, khususnya konsumen luar negeri, menyukai batik ramah lingkungan.

“Mereka lebih suka (batik) yang berbau ramah lingkungan. Ke depan batik-batik ramah lingkungan ini yang akan menjadi kekuatan batik nasional,” papar Nita. Strategi selanjutnya adalah dari segi packaging (pengemasan).

Direktur Edukasi & Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Poppy Savitri mengungkap, kemasan adalalah hal penting yang perlu diperhatikan pebisnis batik dalam memasarkan produknya.

Sebab, saat ini batik-batik yang notabene mahal harganya juga seringkali hanya dikemas dengan plastik. Batik seharusnya memiliki kemasan eksklusif karena batik bukan produk sembarangan, batik adalah produk yang sarat makna.

 

Sumber: Smartmoney.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *