Dudung Alie Syahbana, Pembatik Bebas dari Pekalongan

Sebenarnya, Dudung Alie Syahbana adalah seorang seniman batik. Namun kreasi seninya juga merambah ke pahatan kayu dan kulit.

Dudung lahir, tumbuh, berkembang, dan menjalani hidupnya di Pekalongan, Jawa Tengah. Pekalongan sebagai sebuah kota yang dinamis dimana banyak terjadi pembauran budaya memberi dampak pada dirinya.

Seperti halnya batik pesisiran yang bermuara di Pekalongan, Dudung tumbuh menjadi pribadi yang bebas dalam pemikirannya. Semua tertuang dalam karya batiknya yang menggambarkan kebebasan, tidak terbelenggu oleh pakem-pakem tradisional.

Karya batik Dudung cenderung unik dan berani. Salah satu yang terkenal adalah ketika ia melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi pada motif parang tradisional, dan menjadikan motif parang yang baru.

Ia menamainya Motif Parang Indonesia Raya. Motif ini terlihat begitu modern, dinamis, dan luwes dimana parang digambarkan meliuk-liuk, membentuk bulan sabit, melingkar dan lainnya.

Dalam sebuah seminar batik yang diadakan oleh Museum Batik Pekalongan pada tahun 2016 lalu, ia melakukan sebuah pembelaan budaya. Menurutnya, modifikasi motif parang yang ia lakukan bukanlah sebagai usaha keluar dari nilai budaya dasar, namun lebih sebagai ekspresi seni yang bebas.

Sebagai seniman daerah pesisir, ia layak untuk melakukan pembaharuan dan peremajaan terhadap tatanan tradisional tanpa meninggalkan esensi utama dari motif parang tradisional.

Kecintaan Dudung pada batik sudah dimulai sejak dini. Ia tumbuh di lingkungan pembatik. Ia telah menjalani berbagai peran dalam proses membatik.

Dimulai sebagai tukang lipat batik, mendesain motif, hingga melakukan proses membatik. Pada 1997, ia mulai membuat batiknya sendiri.

Desainnya kerap membuatnya mendapat berbagai penghargaan. Dua motif karyanya, “Kerek Sembarangan” dan “Buket Mega Mendung” diikutkan dalam Lomba Desain Batik Tingkat Nasional yang diselenggarakan Yayasan Batik Indonesia.

Motif Kerek Sembarangan berhasil meraih juara pertama dan motif buket mega mendung berhasil meraih juara ketiga. Ia juga mendapat beberapa penghargaan nasional dan Internasional, antara lain Inacraft Best of The Best (2014), Seal of Excellence dari Unesco (2007).

Kecintaannya pada batik tidak hanya diterapkannya pada kain, namun juga kayu dan kulit. Karya pahatan kayu dan kulit kerap menggambarkan motif batik dan wayang. Karyanya ini juga kerap dipamerkan, bersanding dengan karya kain batiknya.

Dudung juga banyak terlibat dalam urusan batik di masyarakat. Ia adalah salah satu pelopor didaulatnya Batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2009.

Dudung juga tercatat menjadi salah satu penggagas dan pendiri Museum Batik di Pekalongan pada tahun 2006. Dudung juga kerap memberi pelajaran dan pelatihan membatik kepada masyarakat seperti siswa sekolah dan tahanan lembaga pemasyarakatan.

Saat ini, Dia juga berprofesi sebagai tenaga dosen studi Batik di salah satu Universitas di Pekalongan.

Penulis: Pasattimur Fajardewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *